1.
Pendek dulu, pembaca masih sepi.
....................
Senja kembali menjelang, sudah tiga hari Rebbeca tinggal di sebuah Villa modern dan cukup megah milik Banyu. Dia juga selalu memakai baju rajut tebal dan celana bahan panjang untuk menghangatkan diri dari udara dingin di daerah bogor. "Mas Banyu belum pulang. Katanya siang akan pulang." Rebbeca yang berdiri di beranda depan menatap langit dan suasana sekitar yang selalu berkabut dan mendung jika menjelang senja. Terlebih memang bulan ini musim hujan.
Gadis berambut panjang itu mendesah lelah. Dia memilih menyerah sejenak, beranjak dari kursi rotan itu lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Tak lama handphonenya berbunyi.
Diliputi rasa gembira dan tanpa melihat siapa si pemanggil. Gadis itu mengangkatnya. Memang tak ada nama si pemilik saat menelponnya. Tapi, kalau sudah diliputi rasa gembira semua memguap. "Mas Banyu, kamu lagi apa? Kok lama sekali pulangnya." Namun, tubuhnya menegang dan rautnya pias saat mendengar suara terkekeh yang serak dan berat.
Hehehe... Akhirnya aku bisa dengar suara kamu setelah tiga hari tidak mendengarmu... "
Rebbeca menatap kosong bunga mawar dalam vas bunga dari rotan itu dengan rahang mengeras. "Sudah cukup, Jordan kamu mengikutiku. Belum cukup puaskah kau menyakitiku?" suara Rebbeca nyaris dalam dan sinis. Pria ini membuatnya lelah, sampai rasa takutnya menghilang. Dia tak mau memikirkan teror dari Jordan. Memenuhi memory otaknya saja.
Setelah dia bertemu Banyu dan seterusnya. Rebbeca hanya ingin hidup tenang. Mengisi memory otaknya dengan kenangan bahagia yang baru agar tidak gila. "Bajingan, kamu selalu tahu ya kontakku?!"
Bahkan aku tahu kamu sedang menikmati udara sejuk dengan bunga mawar disekitarmu. Suara serak Jordan kembali terdengar.
Untuk sesaat Rebbeca merasa kaget. Dia memindai sekeliling pandangan yang ada di depannya. Di samping, di belakang, atau dimanapun dengan teliti dan tajam. "Kamu... Aku tak peduli dengan karanganmu. Ucapanmu hanya kebetulan. Otakmu licik. Sama seperti saat kamu menjebakku demi berhubungan dengan sepupuku. Sialan!"
Hahaha.... Aku belum puas. Setelah menikmati tubumu aku candu, Eca," ucapnya parau di seberang sana.
Suara tawa pria itu membahana. Kesal, marah dan sedih dia menutup teleponnya. Membuka handphonenya. Mencabut kembali sim card dengan cepat dan nafas menderu. Dia harus menghubungi Banyu.
.................................
Banyu kembali menyugar rambut tebal dan berombaknya. Pria itu dirundung sedih. Gadis itu begitu baik. Mengingat air matanya membuat Banyu terenyuh.
Tak lama ada seseorang yang melempar kaleng soda. Hampir mengenai pelipisnya. Untung Banyu menangkis dengan menangkapnya. "Loe kalau mau bunuh gue gak gini caranya, Sardi," ucap Banyu dengan kesal dan tatapan benci pada sahabatnya.
"Ups, oke nanti gue cari cara lain." Canda Sardi sambil pura-pura terkejut. Pria tinggi berambut tipis dan berpakaian serba hitam itu melompat duduk di samping Banyu.
Di ruang tamu apartemennya dia melirik geli pada sahabatnya. "Cewek baru, alhamdulillah... Dipakai kalau lagi malam... Tak jadipun tak apa-apa asal ada stok yang lain," dendang Sardi dengan suara falsnya.
Banyu menjambak ujung rambut Sardi di tenguknya dengan jempol dan telunjuk. Cara itu paling sakit. "Jangan samain gue kayak loe, Mandra!" Banyu menekan bibirnya erat diliputi rasa kesal yang menggunung. Panggilan mandra terucap untuk Sardi jika dia kesal terlebih jika sang sahabat menambah beban frustasinya.
"Aduuuhh, ampun, Masturrr... Ampun..." Sardi meringis mengangkat kaki memegang tangan Banyu.
Banyu melepaskannya. Kembali merunduk dengan mengusap rambut. "Gue sedang berusaha merenung."
Sardi tersenyum simpul. "Sabar, Bro... Gue kerja jadi bodyguard. Selama itu gue berusaha melakukan yang terbaik. Pikirkan dengan tenang, oke?"
Banyu mengangkat wajahnya dengan raut berantakan. "Gue mau lindungin Rebbeca." Nada bassnya terdengar mantap dan mata elangnya tajam.
Sardi terperangah dan mengangkat alis. Lalu mendesah lelah. "Gue percaya apapun. Asal loe tabah."
....................................
Jordan berdecih menutup teleponnya. Panggilannya tidak masuk lagi. Pasti gadis itu sudah kembali membuang kartunya. "Aku gak mau pergi," desisnya dengan tatapan menghunus tajam.
Dia hanya memakai boxer menampilkan tubuh tegap yang liat dengan ototnya. Pria berwajah keras dan tampan itu melirik pada Lani, sepupu Eca yang tertidur di ranjang king sizenya hanya dengan selimut tipis. Wajah cantiknya amat tenang.
"Aku mencintaimu, Lan. Tapi, aku juga ingin Eca kembali." Ekspresi keras dan marahnya perlahan berubah sedih. Dia kembali memeluk Lani dalam selimut.
Tbc
